Monday, September 3, 2018

Lengkap sudah….. Minggu in harus mendapat teguran dari salah seorang guru pamong gara-gara keraguan hati ini. Aku harus mendengar adikku kecelakaan dan mengalami patah tulang, dia akan menjadi milik orang lain dan yang terakhir salah seorang patner kerja instansi yang mulai Lelah terhadapku.

Dia bukanlah jawaban dari setiap do'aku meskipun dia pernah menjadi harapan kedua orang tuaku. begitu pula sebaliknya, aku bukanlah jawaban disetiap do'a ibunya yang selalu menharapkanku untuk jadi menantunya. Inilah rencana Allah bahwa dia bukanlah orang yang aku harapkan selama ini. Sikapku sudah benar jika aku tidak pernah mau berharap pada dia. sedikit kecewa ya, karena orang tua dan tetua sudah menawarkannya untuk disandingkan denganku, namun jika memang beraa adanya silahkan datangi orang tuaku sesuai dengan syari'at islam. Aku tidak akan berani menjawab jika tak ada kepastian dari keluarganya.

Memang dari awal dia sudah minder denganku karena posisiku sebagai seorang guru dan dia hanya sebagai pengusaha kecil. Itulah dia yang menilaiku dari luarnya saja. aku tak mau berandai andai karena semua yang terjadi di dunia ini adalah takdir Allah SWT. Tidak terlalu kecewa juga karena kejadian ini bersamaan dengan kecelakaan adik yang membuat pikiranku terpecah-pecah dan tak menentu. Orang tuanya bertemu denganku saat beliau menjenguk adikku. Ibunya selalu memandangku dengan penuh kasih saying. Setiap kita bertemu, beliau selalu menatap dan memperlakukanku sebagai anaknya. menatapku dengan kasih saying dan selalu ingin memberi meskipun aku tak pernah mau menerimanya. Jika aku tak mau menerimanya, adikku yang menjadi sasaran dan memaksa untuk memberikannya.

Ibu menginginkanku untuk tinggal di rumah sakit lebih lama, namun beliau juga khawatir dengan tugasku. akhirnya beliau mengizinkanku pergi namun harus pulang di akhir pekan. Aku ingin terus menangis. Pikiranku tak menentu. Satu sisi memikirkan adik yang harus operasi dan ditunda, ibu yang siang malam tak henti menjaga adik yang membuatku kahwatir akan kesehatannya. Satu sisi bertanya siapakah nanti jodohku jika dia bukanlah jodohku. Belum pantaskah aku untukku untuk mendapatkan jodoh yang sesuai keiginan orang tuaku. Entahlah, kuserahkan pad Allah semuanya. Allah yang mengatur segala sesuatunya dan kita hanya bias berusaha dan berdo'a.

Aku memang jarang bercerita kepada kawanku jika mereka tak bertanya. Aku memang tak mau mengumbar kesedihanku. Aku berusaha menyembunyikan semuanya dan tetap menjalani tugas. Baru pertama kali aku menjalankan tugas dengan seorang patner yang jadi primadona kampus. Suaranya begitu indah saat melantunkan shalawat dan ayat suci Al-Qur'an sehingga para ikhwan selalu terpesona dengannya. Kami berusaha diskusi dan menyampaiknan dengan baik apa yang harus diselesaikan. dan tak kusangka setelah aku meninggalkannya dia ingkar janji dengan kata-katanya sendiri. Dia menyindirku lewat statusnya namun tak ku gubris karena aku focus pada adkikku yang akan operasi esok hari dan aku masih di sini. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, namun aku harus terlihat baik di depan peserta didikku.

Aku ingin  tunjukkan aku baik-baik saja. aku tak perlu mengumbar kesedihanku, aku tak akan melawan setiap kata-katamu dan biarlah Allah yang mebalasnya

No comments:

Post a Comment