Karya seorang Rina Faishal
Wednesday, February 27, 2019
Fix, aku belum bisa move on sepenuhnya. Hati ini seolah menvonis diri untuk tidak move on. Dia sudah milik orang lain seolah diri ini memaksa untuk tetap bertahan, padahal aku juga berhak bahagia. Meski ada orang yang ingin menjodohkanku, aku tetap belum bisa untuk move on. Seharusnya hati ini tak berharap pada sesama manusia karena secara hakiki kita hanya bisa berharap kepada Allah SWT.
Kulihat dia sudah bersanding dengan orang lain. dengan setelan jas berwarna gold, disampingnya berdiri sambal menggandengnya dengan gaun berwarna merah anggun berhiaskan warna gold. wanita itu sungguh anggun dan cantik, menurutku layak bersanding dengannya yang tinggi dan gagah. dibelakannya mengikuti 2 pasang orang tua mempelai beserta keluarga besar mempelai. Maafkan aku ibu, aku belum bisa menikah sesuai dengan waktu yang ibu inginkan. aku yakin, Allah sedang menyiapkan calon yang tepat untukku.
Aku benar-benar tidak mau untuk bertemu dengannya dan keluarganya. Aku membencinya. aku membenci orang yang membuatnya mundur dariku. aku membenci orang yang menfitnahku. namun aku tak punya kuasa atas takdirku. Di sisi lain ada orang yang ingin menjodohkanku, namun aku tak punya kuasa menjawab karena terlalu banyak sandiwara yang dibuatnya. Banyak sandiwara yang dibuat dan tak mau mengungkapkan identitas calonnya.
Tuesday, September 25, 2018
SP 1
"Jika kau tak nak melawan dia, abang nak pecat dia!"ucapnya dengan nada emosi.
"Abang, jangnlah seperti itu. Saya ni orang baru, dia sudah bekerja untuk abang lama. Hanya gara-gara saya yang baru datang ke sini abang sudah mau pecat dia." Saya mencoba merubah arahan abang.
"Abang tak peduli. You tak pernah nak cerita kat abang. Abang dah tahu semua. Setiap apa yang you lakukan abang tahu semua." Abang terus menyerangku.
"Abang pikirkan sekali lagi. Saya tak nak abang teralalu tergesa-gesa. Jika abang langsung memecanya, maka dia akan semakin benci kepadaku, dan tak semua orang akan suka dengan keputusan abang."
"Saya sudah tak peduli. Saya ajak kau ke sini, saya ingin kau bahagia bukan untuk menambah penderitaannmu."
"Sabar abang. Jika itu terjadi denganku apa abang akan terima juga?"
Abang terdiam sejenak."Saya yakin kau tak kan meluapkan emosi kepada sembarang orang."
"Abang begini logikanya saya jelaskan, jika abang langsung pecat dia maka dia akan semakin membenciku. karyawn yang lain yang kontrak akan menganggap bahwa tahta berdasarkan hubungan kekeluargaan. Abang akan selalu melindungi keluarga di dalam pekerjaan apapun keadaannya. dan kemungkinan saya akan jadi bahan untuk merek abully bahwa saya bekerja di sini karena keluarga abang. saya tak mau bang."
"Tapi sebelum ini sudah banyak laporan, bukan hanya terjadi pada you. Sikap arogantnya sangat tak pantas untuk posisinya yang bertugas melayani pengunjung."
"Tidak adakah cara lain bang?"
"Ada, dia saya berikan SP."
"Terserah abang, tapi pikirkan dulu dan diskusikan lagi dengan yang lain." Janganlah abang terbawa emosi.
"Baik, tapi bagaimana jika kita coba mengetahui dia apakha benar-benar arogant atau tidak." Abang tersenyum kecut.
"Maksudnya?"
"Mari kita ke perpustakaan, aku nak sembunyi you masuk ke situ saya nak dengarkan dia melayani you. Jika you tak melawan abang akan pecat dia."
Aku mengernyitkan dahi."Bang...., tak usahlah begitu. Dia pasti punya sisi baik. abang harus pikirkan jika aku juga seorang wanita."
"Tak usahlah banyak bicara, ayo kita berangkat."
***
Aku masuk mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum ibu."
Tidak ada jawaban. aku melihat kanan kira ruangan itu kosong tanpa penghuni. Selayaknya perpustakaan yang lain tempat ini sangat sepi tanpa pengunjung dan tanpa petugas. Aku ragu-ragu untuk masuk, namun aku harus mencari buku yang aku perlukan untuk referensi. Aku telah usai membaca sedikit buku itu dan ingin meminjamnya. Namun tak ada orang. Aku mulai meletakkan kembali buku-buku itu dan berencana untuk mencari petugasnya. Sebelum mencari petugas, aku mampir kek kamar mandi untuk memenuhi panggilan alam. Usai dari kamar mandi, aku berebcana ingin menyakan keberadaan petugas perpustakaan kepada salah satu karyawan di ruang pimpinan. Aku menunggu karyawan ruang pimpinan hingga keluar karena aku tak mau mengganggu kesibukannya. kulihat salah satu karyawan ruang pimpinan keluar dan aku mencoba menghampirinya.
"Mohon maaf ibu saya mau tanya, petugas ruang baca ada dimana ya?"
"Da di situ." sambal menunjuk salah satu ruang kecil yang tertutup rak buku dan loker
"Tapi tadi saya ke sana belum ada bu."
"Nona cari saja di ruang belakang itu. Orangnya tidur di situ. Cepat cari saja nona di situ tempatnya."
Aku pun berlalu kembali masuk ke dalam ruang perpustakaaan. "Assalamua'alaikum"
"Yah ada apa?" Dengan nada datar beliau menyambutku tanpa menjawab salam. matanya masih merah terlehat seperti baru bangun tidur. Aku mengira jika ucapan karyawan dari ruang pimpinan itu benar.
Beliau sambil melanjutkan,"Tasnya diletakkan di dalam loker!"
"Oh ya ibu." akupun meletakkan tasku di loker."
Aku mencoba tersenyum untuk mencairkan suasana. "MasyaAllah, ternyata ibu di sini. He...He... tadi saya baru mau cari ibu tapi masih menunggu karyawan di ruang pimpinan untuk bertanya."
Beliau tak menjawab.
"Ibu maksimal pinjam berapa buku?"
"Dua." Beliau menjawab dengan nada ketus. Aku tak begitu menggubris crita teman-teman jika petugas perpus galak dan suka marah-marah. Aku selalu berusaha positif thinking kepada beliau dan mengira memang temanku yang salah.
Aku langsung mencari buku yang aku butuhkan. Aku kembali ke petugas untuk meminjam buku."Ibu, saya mau pinjam yang ini."
"Mbak, ini loh kalau tidak ada saya pinjam bisa tulis di sini. Saya sudah bilang ke ketuanya silahkan pinjam dan tulis keterangan di sini jika tidak ada saya. Saya itu sibuk, bukan hanya bertugas di sini." beliau langsung memarahi dengan bentakan yang super power.
"Mohon maaf ibu. Sya tak berani jika tidak ada orang."
"Pikirannya itu jangan pendek. Kalau tidak ada saya cari." Beliau sambil menunjuk kepla sebelah kanan pertanda saya tak punya pikiran.
"Oh ya mohon maaf sebelumnya bu atas kesalahan saya." Saya berusaha menurunkan egonya.
Beliau masih melanjutkan, "Sebenarnya apa yang kalian bicarakan di grup hingga tak membanggubris peringatan yang saya kirimkan ke ketua anda."
"Beliau cuma menyampaikan jika diperingatkan untuk segera mengembalikan buku yang dipinjam, begitu aja bu."
"Kalau ada pesan di grup itu dibaca!" Beliau terus menyerangku dengan nada kasar.
"Ia bu sebelumnya saya minta maaf bu. terimakasih."
Beliau tak menjawab dan akupun berlalu dengan perasaan antara marah dan cuek. aku menyadari jika itu salahku.
Namun aku masih berpikir tentang perpustakaan. biasanya perpustakaan adalah tempat favorit bagiku. Tempat yang paling tenang untuk mebgerjakan tugas kini semuanya serba terbalik. Baru sekarang aku menemukan perpustakaan dengan petugas yang kasar dan pelayanan yang sangat tidak nyaman. Pantas jika yang lain bercerita tentang petugas perpustakaan yang arrogant. Tempat itu menjadi tempat yang paling menyeramkan bagiku untuk pertama kalinya.
***
Entah bagaimana kejadian itu sampai di telinga abang. Padahal ak satupun yang tahu jika aku adalah adiknya. Aku yang meminta dari awal jika karyawan tak ada yang boleh tahu siapa diriku. Aku tak mau disebut jika kberadaanku di sini atas domplain dari abang. Sebenarnya aku tak mau bekerja di tempat kerja keluargaku apalagi perusahaan milik abang. Tapi karena abang dan umi yang mebujukku aku pun mau tapi harus diperlakukan sama dengan calon karyawan yang lain. Aku mau bekerja jika benar-benar karena prestasiku bukan karena hubungan keluarga. Aku melalui beberapa tes, tes administrasi, tes tulis, dan tes wawancara. Meskipun tak unggul aku lolos dalam tes itu. Aku meminta abang tak ikut partisipasi dalam mengurus dalam penyelesian ini, karena aku tak mau di kemudian hari aku lulus berkat dipaksakan lulus. Aku pantau terus jika itu memang benar-benar hasilku. Sampai sekarang pun panitia yang menyeleksi tak satupun yang tahu jika aku adalah adik pemilik perusahaan ini.
Masa training ini menjadi tahap akhir penyeleksian. Kami mendapat beberapa tugas laporan yang harus segera diselesaikan. Perpustakaan adalah tempat yang sering dikunjungi menghadapai tugas seperti ini.
Siang itu kami menuju perpustakaan. Aku masuk melalu pintu depan dekat petugas perpustakaan dan abang leat pintu samping yaitu khusus pintu samping perpustakan. Aku mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum." Aku tersenyum kepada petugas perpustakan.
Beliau tidak menjawab salamku, tapi dengan jawaban "Iya."
"Ini ibu, saya ingin mengembalikan salah satu buku yang kemarin."
"Kok sudah dikembalikan? Mbak ini maunya apa? baru kemarin pinjam sudah dikembalikan. Mau ngerjain saya ya? Kalau tidak niat tidak usah pinjam."Beliau membentakku kembali.
"Mohon maaf ibu, saya sudah membaca dan mempelajarinya semalam. Buku ini sudah membantu untuk mempelajari formatnyan dalam menyususn laporan akhir."
"Tahun sebelumnya itu peserta tidak seperti anda. Sekarang kok seperti ini. Anda itu harus tahu diri."
Aku segera menyelesaikan data pengembalian dan mengucapkan salam dan maaf. Kuucapkan salam. dan seperti biasa beliau tak menjawabnya.
Aku keluar dari perpustakaan. Abang sudah menungguku di dekat lift. Abang mengajakku makan siang di luar kantor. Aku keluar dengan sepeda motorku dan abang membawa mobilnya. kami memang jalan terpisah agar karyawan tak curiga. kami memilih tempat yang agak jauh.
"Kenapa kau tak lawan dia?" abang memulai pembicaraan.
"Sudahlah abang, memang saya yang salah."
"Tapi ini bukan sekali saja. Kau niat mengembalikan. Perusahaan itu mengutamakan pelayanan kepada public jika tak baik costumer berhak complain untuk memperbaiki kinerja kami."
"Itu kan kepada konsumen umum. Saya kan sesame karyawan." Saya terus berusaha menurunkan ego abang.
"Tak nak. Saya tak nak perusahaan saya jelek macam ntu. Saya tetap akan memberi tindakan pada dia. Ini keputusan saya sebagai seorang pimpinan."
Saya hanya bias diam jika abang sudah pada keputusannya.
***
2 Hari berlalu. Saya tiba lebih awal daripada abang. Saya sapa semua teman-teman saya. "Asssalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Teman-teman sesame karyawan training menjawab dengan kompak.
"Zahra you dah kembalikan buku yang you pinjam kemarin." Aisyah menanyakan buku.
"Iya satu sudah saya kembalikan. Satu masih di saya, kenapa mau pinjam?"
"Iya, tapi kan harus gentian. Zahra mau tak temani saya pinjam buku."
"Boleh. Memangnya kenapa minta ditemani? Aku pura-pura tak tahu.
"Tak apa. Saya nak Zahra tunjukkan tempat bukunya, saya baru pertama kali ingin ke perpustakaan."
"Ok. saya kira you takut ke perpustakaan."
"Zahra tak tahu ya?." Sambil membisik.
Akupun mengernyitkan dahi, "Apa?"
"Petugas perpustakaan kena scorsing oleh bos. Karena arrogant sangat lah kat pengunjung."
Aku berusaha menunjukkan wajah datar kepada Aisyah meskipun aku setengah terkejut dengan kabar itu. Ternyata abang menscorsingnya. Sudahlah aku tak mau memikirkan itu.
Aku tersenyum, "Oh, ya sudah." Aku berusaha menghentikan pembicaraan agar tak berlanjut pada ghibah.
Aku kembali ke rumah dengan cepat. setelah menunaikan shalat Isya berjemaah kami makan Bersama. Usai membantu umi dan bibi di dapur, saya duduk di balkon dengan secangkir kopi sambil bermain android. Tiba-tiba abang menghampiriku.
"Ayo, ikhwan mana yang ingin melamarmu."abang menggodaku.
"Ah... abang mengagetkan saja. Nggak lah bang, ini masalah pekerjaan."
"Oh ya ban, saya boleh tanya sesuatu nggak. Tapi abang jangan marah ya!"
"Ya. Abang tahu pertanyaanmu."
"Apa???"
"Tentang scorsing kan?"
"Iya bang. Maaf ya bang jangan tersinggung."
"Abang memberikan tindakan berdasarkan beberapa laporan dan fakta yang abang lihat sendiri. Keputusan scorsing bukan hanya keputusan abang tapi berdasarkan rapat dengan karyawan yang lain di setiap devisi. Mereka satu pemikiran dengan abang awalnya ingin langsung memecatnya. Cuma abang ingin mempertahannkannya karena pesanmu kemarin. Jadi diambil jalan tengah dia di scorsing selama 1 minggu, honornya dipotong selama 1 minggu dan dia akan kami pindahkan ke tugas lain. kami cari karyawan yang ramah dalam melayani costumer. Dia akan saya tempatkan di tempat yang cocok dengan karakternya dia."
"Baik jika itu keputusannya. Abang jauh lebih berpengalaman. Terimakasih abang atas keputusannya. tapi saya tetap tidak enak abang. jika suatu saat mereka tahu saya adalah keluargamu maka mereka akan kontrak mungkin."
"Cepat dan lambats aya akan kasih tahu mereka bahwa kau adalah keluargaku. Dan maaf sebelumnya jika kau lulus training saya nak kasih tahu satu persatu karyawanku."
"Baik bang. terimakasih."
Malam itu semuanya berlalu. Banyak yang kita petik dari kejadian ini, bahwa dalam melayani pengunjung harus bias menurunkan ego agar tak berdampak pada sekitarnya. Dan terimakasih abang atas semuanya.
Monday, September 3, 2018
Lengkap sudah….. Minggu in harus mendapat teguran dari salah seorang guru pamong gara-gara keraguan hati ini. Aku harus mendengar adikku kecelakaan dan mengalami patah tulang, dia akan menjadi milik orang lain dan yang terakhir salah seorang patner kerja instansi yang mulai Lelah terhadapku.
Dia bukanlah jawaban dari setiap do'aku meskipun dia pernah menjadi harapan kedua orang tuaku. begitu pula sebaliknya, aku bukanlah jawaban disetiap do'a ibunya yang selalu menharapkanku untuk jadi menantunya. Inilah rencana Allah bahwa dia bukanlah orang yang aku harapkan selama ini. Sikapku sudah benar jika aku tidak pernah mau berharap pada dia. sedikit kecewa ya, karena orang tua dan tetua sudah menawarkannya untuk disandingkan denganku, namun jika memang beraa adanya silahkan datangi orang tuaku sesuai dengan syari'at islam. Aku tidak akan berani menjawab jika tak ada kepastian dari keluarganya.
Memang dari awal dia sudah minder denganku karena posisiku sebagai seorang guru dan dia hanya sebagai pengusaha kecil. Itulah dia yang menilaiku dari luarnya saja. aku tak mau berandai andai karena semua yang terjadi di dunia ini adalah takdir Allah SWT. Tidak terlalu kecewa juga karena kejadian ini bersamaan dengan kecelakaan adik yang membuat pikiranku terpecah-pecah dan tak menentu. Orang tuanya bertemu denganku saat beliau menjenguk adikku. Ibunya selalu memandangku dengan penuh kasih saying. Setiap kita bertemu, beliau selalu menatap dan memperlakukanku sebagai anaknya. menatapku dengan kasih saying dan selalu ingin memberi meskipun aku tak pernah mau menerimanya. Jika aku tak mau menerimanya, adikku yang menjadi sasaran dan memaksa untuk memberikannya.
Ibu menginginkanku untuk tinggal di rumah sakit lebih lama, namun beliau juga khawatir dengan tugasku. akhirnya beliau mengizinkanku pergi namun harus pulang di akhir pekan. Aku ingin terus menangis. Pikiranku tak menentu. Satu sisi memikirkan adik yang harus operasi dan ditunda, ibu yang siang malam tak henti menjaga adik yang membuatku kahwatir akan kesehatannya. Satu sisi bertanya siapakah nanti jodohku jika dia bukanlah jodohku. Belum pantaskah aku untukku untuk mendapatkan jodoh yang sesuai keiginan orang tuaku. Entahlah, kuserahkan pad Allah semuanya. Allah yang mengatur segala sesuatunya dan kita hanya bias berusaha dan berdo'a.
Aku memang jarang bercerita kepada kawanku jika mereka tak bertanya. Aku memang tak mau mengumbar kesedihanku. Aku berusaha menyembunyikan semuanya dan tetap menjalani tugas. Baru pertama kali aku menjalankan tugas dengan seorang patner yang jadi primadona kampus. Suaranya begitu indah saat melantunkan shalawat dan ayat suci Al-Qur'an sehingga para ikhwan selalu terpesona dengannya. Kami berusaha diskusi dan menyampaiknan dengan baik apa yang harus diselesaikan. dan tak kusangka setelah aku meninggalkannya dia ingkar janji dengan kata-katanya sendiri. Dia menyindirku lewat statusnya namun tak ku gubris karena aku focus pada adkikku yang akan operasi esok hari dan aku masih di sini. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, namun aku harus terlihat baik di depan peserta didikku.
Aku ingin tunjukkan aku baik-baik saja. aku tak perlu mengumbar kesedihanku, aku tak akan melawan setiap kata-katamu dan biarlah Allah yang mebalasnya
Dia bukanlah jawaban dari setiap do'aku meskipun dia pernah menjadi harapan kedua orang tuaku. begitu pula sebaliknya, aku bukanlah jawaban disetiap do'a ibunya yang selalu menharapkanku untuk jadi menantunya. Inilah rencana Allah bahwa dia bukanlah orang yang aku harapkan selama ini. Sikapku sudah benar jika aku tidak pernah mau berharap pada dia. sedikit kecewa ya, karena orang tua dan tetua sudah menawarkannya untuk disandingkan denganku, namun jika memang beraa adanya silahkan datangi orang tuaku sesuai dengan syari'at islam. Aku tidak akan berani menjawab jika tak ada kepastian dari keluarganya.
Memang dari awal dia sudah minder denganku karena posisiku sebagai seorang guru dan dia hanya sebagai pengusaha kecil. Itulah dia yang menilaiku dari luarnya saja. aku tak mau berandai andai karena semua yang terjadi di dunia ini adalah takdir Allah SWT. Tidak terlalu kecewa juga karena kejadian ini bersamaan dengan kecelakaan adik yang membuat pikiranku terpecah-pecah dan tak menentu. Orang tuanya bertemu denganku saat beliau menjenguk adikku. Ibunya selalu memandangku dengan penuh kasih saying. Setiap kita bertemu, beliau selalu menatap dan memperlakukanku sebagai anaknya. menatapku dengan kasih saying dan selalu ingin memberi meskipun aku tak pernah mau menerimanya. Jika aku tak mau menerimanya, adikku yang menjadi sasaran dan memaksa untuk memberikannya.
Ibu menginginkanku untuk tinggal di rumah sakit lebih lama, namun beliau juga khawatir dengan tugasku. akhirnya beliau mengizinkanku pergi namun harus pulang di akhir pekan. Aku ingin terus menangis. Pikiranku tak menentu. Satu sisi memikirkan adik yang harus operasi dan ditunda, ibu yang siang malam tak henti menjaga adik yang membuatku kahwatir akan kesehatannya. Satu sisi bertanya siapakah nanti jodohku jika dia bukanlah jodohku. Belum pantaskah aku untukku untuk mendapatkan jodoh yang sesuai keiginan orang tuaku. Entahlah, kuserahkan pad Allah semuanya. Allah yang mengatur segala sesuatunya dan kita hanya bias berusaha dan berdo'a.
Aku memang jarang bercerita kepada kawanku jika mereka tak bertanya. Aku memang tak mau mengumbar kesedihanku. Aku berusaha menyembunyikan semuanya dan tetap menjalani tugas. Baru pertama kali aku menjalankan tugas dengan seorang patner yang jadi primadona kampus. Suaranya begitu indah saat melantunkan shalawat dan ayat suci Al-Qur'an sehingga para ikhwan selalu terpesona dengannya. Kami berusaha diskusi dan menyampaiknan dengan baik apa yang harus diselesaikan. dan tak kusangka setelah aku meninggalkannya dia ingkar janji dengan kata-katanya sendiri. Dia menyindirku lewat statusnya namun tak ku gubris karena aku focus pada adkikku yang akan operasi esok hari dan aku masih di sini. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, namun aku harus terlihat baik di depan peserta didikku.
Aku ingin tunjukkan aku baik-baik saja. aku tak perlu mengumbar kesedihanku, aku tak akan melawan setiap kata-katamu dan biarlah Allah yang mebalasnya
Subscribe to:
Comments (Atom)